Kapolda Kembali Segel Dua Perusahaan Sawit di Ketapang

Penyegelan
Penyegelan dua anak perusahaan Chargill di Kecamatan Manis Mata oleh Kapolda Kalbar, Selasa (24/9).

KETAPANGNEWS.COM—Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Barat, Irjen Pol Didi Haryono kembali menyegel perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Ketapang, Selasa (24/9) kemarin.

Kali ini, yang disegel adalah PT Harapan Sawit Lestari (HSL) dan PT Ayu Sawit Lestari (ASL) anak PT Cargill Grup, di Kecamatan Manis Mata.

Penyegelen dilakukan untuk kepentingan penyelidikan aparat Kepolisian. Pasalnya, dua perusahaan tersebut dinilai lalai mengatasi kebakaran di lahannya.

Kapolda Kalbar, Irjen Pol Didi Haryono mengatakan, penyegelan diaksanakan karena dua anak perusahaan PT Cargill di Kecamatan Manis Mata, Ketapang telah lalai, sehingga terjadi Karhutla di lahan mereka.

“Penyegelan ini kita dilakukan untuk mempermudah proses penyelidikan,” kata Irjen Pol Didi Haryono kepada awak media Ketapang, Selasa (24/9) di bandara rahadi oesman.

Dia menyebut, penyegelan dilakukan di dua lokasi. Tepatnya PT HSL dengan luas lahan yang terbakar kurang lebih 17 Hektar dan PT ASL sekitar enam hektar.

Sementara upaya dalam penanganan kasus Karhutla, diakuinya terdapat terobosan sangat spektakuler dari Gubernur Kalbar yang mengeluarkan Peraturan Gubernur nomor 39 tahun 2019 mengenai sanksi komulatif dan sanksi administrasi.

“Terobosan ini sangat baik, karena ada sanksi komulatifnya. Mulai dari pidana dan denda serta sanksi administrasi, apabila lalai maka izin konsesinya dibekukan selama tiga  tahun, kemudian kalau terbukti ada unsur kesengajaan dibekukan lima tahun. Jika berulang kali dicabut izinnya,” ujarnya.

Kepala Desa Asam Besar, Kecamatan Manis Mata, Robertus Mamang menyambut baik langkah Kapolda Kalbar melakukan penyegelan.

“Pak Kapolda sudah melihat langsung lahan di konsesi PT HSL yang terbakar, namun yang menjadi pertanyaan kita kenapa bisa terbakar di dalam izin lokasi atau HGU PT HSL,” tuturnya.

Dengan kejadian itu, ia berharap perusahaan lebih peka dan berkomunikasi dengan baik ke jajaran hingga tingkat Desa. Manurutnya beberapa saran yang pernah disampaikan pihaknya seolah diabaikan perusahaan.

“Misalnya seperti saran membuat embung, sebab embung yang ada dan ditunjukkan ke Kapolda adalah embung kecil untuk penyiraman bibit saja.  Terus Damkar hanya dua unit untuk 10 estate, tentu itu tidak maksimal,” terangnya.(absa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.