Enam Orangutan Dilepasliarkan


individu orangutan (Pongo pygmaeus) di lepasliarkan dalam kawasan TNBBBR Kamis (14/02).

KETAPANGNEWS.COM– Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melakukan pelepasliaran enam individu orangutan (Pongo pygmaeus) di dalam kawasan TNBBBR Kamis (14/02).

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez mengatakan, Proses rehabilitasi merupakan proses panjang yang memakan waktu, tenaga dan upaya yang tidak sedikit. Salah satu tantangan terbesar dalam proses rehabilitasi adalah tidak adanya buku panduan yang pasti bagaimana merehabilitasi orangutan dan mengembalikan perilaku serta kemampuan alaminya untuk hidup bertahan di hutan.

Dalam pelepasan kali ini pihaknya melakukan satu terobosan untuk melepasliarkan bayi orangutan dengan induk asuhnya. Zoya dan Muria saling belajar bagaimana bertahan hidup di alam. Zoya yang tidak pernah dipelihara oleh manusia menunjukan perilaku alami yang bisa dipelajari Muria, dan Muria yang protektif selalu melindungi Zoya dari berbagai ancaman yang ada di alam.

” Melihat kemajuan keduanya yang pesat, kami tidak ragu untuk menjadikannya sebagai kandidat pelepasliaran. Setelah pemantauan intensif selama beberapa bulan, hasilnya menunjukkan keduanya siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Semoga Muria dan Zoya serta semua orangutan yang sudah dilepasliarkan bisa hidup aman di alam bebas,” katanya.

Plt Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Hernowo menjelaskan, kegiatan pelepasliaran 6 (enam) orangutan hasil rehabilitasi ini, merupakan salah satu program kerjasama TNBBBR dengan YIARI yang telah disepakati dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2019 dan termasuk dalam tahap pertama pelepasliaran orangutan tahun 2019.

Menurutnya, rencananya akan ada tiga tahapan pelepasliaran orangutan selama tahun 2019. Dan Orangutan hasil rehabilitasi ini setelah dilepasliarkan akan dimonitoring, dimana kegiatan monitoring akan dilakukan mulai dari orangutan bangun tidur sampai tidur lagi di sarang.

” Indikator pencapaian dari dilakukannya kegiatan pelepasliaran dan monitoring orangutan paska pelepasliaran ini adalah orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik di habitatnya serta meningkatnya jumlah populasi dan terjaminnya keberlangsungan hidup orangutan di alam,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kerjasama TNBBBR dengan YIARI saat ini memasuki tahun ke-4 dan hingga saat ini semua program yang direncanakan pada RKT setiap tahunan secara umum dapat berjalan dengan baik dan lancar, hal ini antara lain dikarenakan padunya koordinasi dan kerjasama antara TNBBBR dengan YIARI, kawan-kawan di TNBBBR dengan YIARI saling bahu membahu dalam mensukseskan semua program reintroduksi yang telah direncanakan dan disepakati bersama.

” Semoga semua orangutan yang telah di lepasliarkan di TNBBBR akan dapat segera beradaptasi dengan habitat alaminya dan mereka semua dapat survive bahkan berkembang di kawasan TNBBBR,” ucapnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alama Kalimantan Barat, Sadtata Noor menuturkan, upaya konservasi satwa liar dari waktu ke waktu menghadapi tantangan yang semakin besar. Namun, kerja konservasi tidak boleh berhenti. Pelepasliaran orangutan kali ini merupakan salah satu pertarungan yang harus terus dilakukan dan harus dimenangkan.

” Terima kasih dan apresiasi untuk para mitra, khususnya IAR Indonesia, yang telah memberikan kontribusinya dalam mendukung tugas-tugas BKSDA Kalbar dalam mengemban amanah di bidang konservasi tanaman dan satwal liar di Kalimantan Barat,” pungkasnya.( Jay).

Leave a Reply

Your email address will not be published.