Satu Komitment Hadapi Kebakaran Hutan dan Lahan

Apel Siaga Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan.

tandatangan deklarasi (2)
Penandatangan deklarasi pencegahan dan penanggulangan Karhutla Apel Siaga Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla.

KETAPANGNEWS.COM – Kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah yang serius. Mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, Pemkab Ketapang menggelar apel siaga pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tingkat Propinsi Kalbar tahun 2018 di Halaman Kantor Bupati Ketapang, Kamis (3/5) . Bertindak sebagai inspektur upacara adalah Wakil Bupati Ketapang, Drs H.Suprapto S.

Apel siaga kebakaran hutan dan lahan yang diikuti peserta dari Manggala Agni, satuan Polisi Pamong Praja, Pemadam Kebakaran, TNI, Polri dan pihak terkait lainnya tersebut ditampilkan juga sarana dan prasarana pemadaman kebakaran.

Selain itu juga dilakukan penandatanganan deklarasi antisipasi kebakaran hutan dan lahan. Serta penyerahan bantuan sarana pemadaman kebakaran lahan kepada pemerintah desa, Laman Satong, Kuala Satong, Tanjung Baik Budi, Sungai Awan Kiri, Sungai Besar dan Sungai Pelang.

Wakil Bupati Ketapang, Drs H Suprapto S, dalam amanatnya menegaskan kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah yang serius, bahkan Kalbar pernah menjadi sorotan dunia internasional. Akibat bencana asap beberapa waktu yang lalu, dan setiap tahunnya terjadi terutama pada saat musim kemarau.

Untuk wilayah Kabupaten Ketapang waktu yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada bulan Juli sampai bulan September. Indikator utama yang digunakan dalam memantau kebakaran hutan dan lahan di suatu daerah adalah banyaknya titik api atau hotspot yang terpantau melalui beberapa satelit pemantau.

“Fakta menunjukkan bahwa 99 persen penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi berasal dari ulah manusia. Entah itu sengaja dibakar atau karena api lompat yang terjadi akibat kelalaian pada saat penyiapan atau pembukaan lahan untuk usaha pertanian, perkebunan ataupun usaha pertambangan. satu persen saja yang disebabkan oleh factor alam seperti sambaran petir, gunung berapi, atau geseran dahan yang tertiup angin saat musim kemarau,” tegas Wakil Bupati Ketapang, Drs H.Suprapto S.

Di tingkat propinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2017 Kabupaten Ketapang terdata sebanyak 627 titik api. Wakil Bupati Ketapang menyebutkan untuk menekan dan menurunkan titik panas ini bukanlah hal yang mudah. Untuk itu diperlukan kerja keras kita bersama melalui sinergitas upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan dengan tetap mendorong partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.

Disebutkannya bahwa beberapa waktu terakhir juga telah dilakukan pengembangan inovasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Manggala Agni berupa solusi alternative dalam pembukaan lahan tanpa bakar.

Dimana sebelumnya masyarakat kita masih belum mengetahui cara-cara yang efektif dalam pemusnahan limbah bekas tebangan dalam pembukaan lahan. Saat ini limbah bekas tebangan dapat diolah dan dimanfaatkan untuk menjadi asap cair atau cuka kayu.

“Asap cair diperoleh dari proses distilasi dan kondensasi limbah biomassa bekas tebangan dalam pembukaan lahan masyarakat. Salah satu manfaat dari asap cair ini dapat diaplikasikan di bidang kesehatan dan lainnya,” katanya.

Sesuai arahan Presiden pada rapat koordinasi nasional pengendalian kebakaran hutan dan lahan ini di istana pada Selasa 6 Februari 2018, disebutkan beberapa langkah dan upaya dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Diantaranya, pertama, penurunan hotspot dan kejadian karhutla tahun 2016 dan 2017 karena kerja keras dan keterlibatan semua pihak. kedua, waspadai musim kemarau yang datang lebih awal, selalu monitor prediksi BMKG. Ketiga, Persiapan mengatasi karhutla harus segera dimulai, jangan tunggu kejadian baru bergerak. Titik api harus dipadamkan sejak dini. Keempat, penegakan hukum pada pelaku pembakar hutan dan lahan. Kelima, pemenuhan kewajiban untuk menjaga wilayah kerja masing-masing. Keenam, siapkan sarana prasarana dan personil. Dan, ketujuh adalah libatkan masyarakat dalam pencegahan.

Lebih lanjut disampaikan, berdasarkan hasil pengamatan stasiun meteorology Rahadi Oesman BMKG Ketapang, prakiraan kondisi dinamika atmosfer di wilayah ketapang para bulan Mei 2018 umumnya masih berpotensi adanya pertumbuhan awan-awan konventif yang mengakibatkan terjadinya hujan disertai petir guntur. Namun jumlah curah hujan akan berkurang dari bulan April.

Begitu pula curah hujan ada bulan Juni akan berkurang dari bulan Mei yaitu berkisar 50-300 mm. Sedangkan pada bulan Juli curah hujan diprediksi kurang dari 150 mm. Melihat hal itu perlu diwaspadai meningkatnya potensi kebakaran hutan terutama pada bulan Juni dan Juli.

“ Menindaklanjuti beberapa hal tersebut, maka dipandang perlu untuk menggelar apel siaga pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan yang berguna untuk menyatukan komitmen seluruh pihak terkait dalam menghadapi kejadian kebakaran hutan dan lahan di kabupaten Ketapang,” tuntasnya.(Jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published.