Orangutan Betina Diselamatkan IAR dan BKSDA

Orang Utan
Isin orangutan betina saat diperiksa kesehatanya oleh Dokter hewan IAR Indonesia.

KETAPANGNEWS.COM – International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang Resort Sukadana, Kayong Utara, mengevakuasi satu individu orangutan Pongo pygmaeus berjenis kelamin betina yang diberi nama Isin di Desa Banyu Abang, Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara Selasa (3/10).

Dalam press release yang diterima redaksi Jumat (6/10) orangutan ini dipelihara oleh Bahtiar selama dua minggu di rumahnya, sebelumnya, orangutan ini telah ditemukan oleh Bachtiar di hutan tepi kebun sawit milik masyarakat sekitar yang berdekatan dengan areal kebun sawit PT Kalimantan Agro Pusaka.

Selama dipelihara Bahtiar, Isin diberi makan buah-buahan, dari pengakuan Bahtiar, orangutan yang diberi nama Isin ini memang mau diserahkan kepada pihak yang berwenang, namun masih bingung kepada siapa harus menyerahkanya.

Bahtiar mengaku sudah mengetahui adanya undang – undang mengenai larangan memelihara satwa dilindungi. Oleh karena itu dia menyerahkan orangutan ini kepada pihak berwenang karena tidak mau terlibat dengan masalah hukum.

“Saya sudah tahu kalau orangutan merupakan satwa liar dilindungi, makanya saya ambil karena kasian dan takut kalau diambil pemburu. Dari awal memang saya sudah berniat untuk menyerahkannya kepada pihak berwenang,” ungkap Bachtiar.

Selama dua minggu ini Isin dipelihara di kandang kayu berukuran 1×1 meter. Karena orangutan ini masih cukup liar, tim memutuskan untuk membius Isin sebelum memindahkannya ke kandang transportasi.

Argito Ranting, manager lapangan IAR Indonesia memancing tangan Isin keluar dengan pisang. Setelah tim mendapatkan tangan Isin yang terjulur keluar kandang, tim medis segera menyuntikkan obat bius ke lengan orangutan ini. Setelah Isin tidak sadarkan diri, tim segera memindahkan Isin ke kandang transport dan melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi fisik orangutan.

“Kondisi orangutan sejauh ini nampak bagus, tidak nampak adanya kelainan. Nantinya akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di klinik kami di Ketapang,” timpal drh. Ufla Wulandari, dokter hewan IAR Indonesia.

Menurutnya Ulfla, dilihat dari formulasi giginya, orangutan ini diperkirakan berusia 3 tahun.

Di habitat aslinya, bayi orangutan tinggal bersama induknya sampai usia 6-8 tahun. Bayi orangutan yang diambil ketika berumur kurang dari 6 tahun kemungkinan besar induknya mati atau dibunuh.

Orang Utan
Isin orangutan saat berada di kandang.

Maraknya alih fungsi hutan menjadi perkebunan atau perumahan mendorong penurunan populasi orangutan secara signifikan. Kasus perburuan, jual beli, dan pemeliharaan turut serta mendorong laju penurunan populasi orangutan di alam.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) baru-baru ini memasukkan orangutan Kalimantan ke dalam kelompok satwa yang sangat terancam punah, satu langkah sebelum benar-benar punah.

“Kejadian seperti ini cukup memprihatinkan mengingat bayi orangutan ini bisa saja kehilangan masa depannya untuk hidup bebas di habitatnya,” tambah Karmele Sanchez, Direktur program YIARI Ketapang.

Karmele menegaskan, bayi seusia ini tidak akan mampu bertahan hidup sendiri di alam bebas tanpa induknya. Mereka harus menjalahi rehabilitasi untuk bisa kembali lagi ke habitatnya.

“Proses rehabilitasi ini memakan waktu bertahun-tahun dengan upaya dan biaya yang tidak sedikit,” pungkasnya.(dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.