Ungkapan Anak Korban Mutilasi 7 Tahun Silam

Putra Sulung Korban Mutilasi
Anak sulung korban Ahmadiyan saat ditemui dikediamannya, Selasa (26/9).

KETAPANGNEWS.COM—Tragedi dimutilasinya pasangan suami istri, almarhum Suharso dan Armaniah warga Desa Pesaguan Kiri, Kecamatan Matan Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Ketapang pada 25 Agustus 2010 lalu menjadi sejarah kelam bagi anak korban dan keluarganya serta masyarakat Ketapang.

Ditambah lagi, kasus tujuh tahun silam yang terjadi di Desa Pelang Kecamatan MHS tersebut hingga kini belum terungkap siapa pelakunya. Bahkan, anak kandung korban juga tak mengetahui apa motif pembunuhan sadis tersebut.

“Untuk motif pembunuhan saya tidak tahu dan tidak bisa menjelaskan. Sebab sepengetahuan kami (keluarga-red), almarhum tidak pernah bermasalah dengan siapapun dan tak pernah mau tau dengan urusan orang lain,” ungkap anak kandung korban, Ahmadiyan (37) kepada awak media dikediamannya, Selasa (26/9).

“Jadi kami dari pihak keluarga juga bingung, siapa secara pasti sebagai pelaku. Sementara keseharian almarhum terkenal cukup baik dan tidak ada masalah dengan orang lain,” timpal pria akrab disapa Yayan ini.

Makam Korban Mutilasi
Makam almarhum korban di Desa Pesaguan Kiri. Dok: KN

Namun demikian, secara pribadi dirinya mengaku telah memiliki kecurigaan terhadap pelaku pembunuh orang tuanya. Bahkan orang yang dicurigainya, berdasarkan informasi yang ia terima pernah ditahan selama 3×24 jam (tiga hari) di Polres Ketapang.

“Informasi yang saya dapat, orang yang dicurigai sebagai otak pembunuhan tersebut pernah ditahan dan diperiksa selama tiga hari. Tetapi karena tidak cukup bukti, akhirnya dilepaskan,” ujar putra sulung korban ini.

Menurutnya kecurigaan yang diutarakannya cukup beralasan. Pasalnya saat keberangkatan orang tuanya ke Ketapang untuk menjenguk keluarga di Rumah Sakit, sekitar pukul 00.00 Wib adik kandungnya atas nama Iwan dihubungi orang yang dicurigainya sebagai otak pembunuh orang tuanya.

Diungkapkan dia, yang menghubungi tersebut merupakan teman dari adik kandungnya dan bukan asli dari Ketapang. Dimana saat orang tuanya berada di Ketapang, yang dicurigai tersebut menanyakan keberadaan almarhum kepada adiknya via SMS.

“Karena hanya bertanya dan sudah biasa, lalu adik saya menjawab ada di Ketapang. Saat menanya keberdaan orang tua saya, dia masih berada di Pesaguan Kiri. Namun setelah kejadian, dengan waktu bersamaan dia sudah tak berada di Pesaguan lagi.Sementara informasi yang saya dapat, orang itulah yang ditahan selama tiga hari tersebut,” tuturnya.

Atas insident tersebut, berbagai upaya telah dilakukannya. Mulai dari memberikan informasi terkecil kepada pihak Kepolisian terkait kasus itu hingga berikhtiar dengan cara lain. Sehingga tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkannya bersama saudaranya.

“Dari awal kejadian hingga saat ini, berbagai cara sudah dilakukan, bahkan tidak sedikit orang pintar di Ketapang  selalu saya didatangi. Jika dikatakan 100 orang mungkin bohong orang pintar yang saya datangi, tapi kalau 50 orang sudah ada,” terangnya.

Ia meyakini, kasus tersebut akan segera terungkap secara pasti jika dikerjakan bersama-sama. Ditambah lagi sekarang jamannya sudah canggih ada ada sistem ITE. Sehingga diharapkannya, kasus ini agar segera terungkap dan pelakunya segera ditangkap.

“Sampai hari ini kami selaku anak korban dan keluarga selalu berharap kasus ini segera terungkap serta mengetahui pelakunya secara pasti,” harapnya.(absa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.