Ibadah Kurban Manivestasi Solidaritas dan Kebangkitan Umat

15 Hewan Kurban Terkumpul Di Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang

Idul Adha
Kepala Kementerian Agama RI, Ketapang memberikan khutbah pada Sholat Idul Adha Jumat (1/9) di Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang.

KETAPANGNEWS.COM – Sebanyak 15 hewan kurban terkumpul di Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang. Hewan kurban tersebut terdiri 12 ekor sapi dan tiga ekor kambing. Dari hewan kurban yang terkumpul tersebut, termasuk juga dua ekor sapi yang diserahkan Pemkab Ketapang dan satu ekor sapi dari Wakil Bupati Ketapang.

Selain penyembelihan dan distribusi hewan kurban, di Masjid Agung
Al-Ikhlas Ketapang Jumat (1/9) juga dilaksanakan sholat Ied berjemaah dengan imam yaitu H.Muhamad kholil, dan Khatib adalah Kepala Kementerian Agama RI, Kabupaten Ketapang, H.Ekhsan S.Ag, M.Si.

Walaupun pelaksanaan khutbah
sudah terlaksana beberapa hari lalu, ada beberapa hikmah dari isi khutbah yang dapat mejadi referensi kita dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Kepala Kantor Kementerian Agama RI Kabupaten Ketapang membawakan khutbah yang bertemakan “Ibadah qurban manivestasi solidaritas dan
kebangkitan umat”.

“Hari Raya Idul Adha tidak bisa dilepaskan dengan peristiwa perjuangan. Nabiullah Ibrahim As, dengan Ismail As beserta Siti Hajar. Seorang istri dan ibu dari Ismail, yang kuat iman dan kesabarannya,” jelas.H.Ekhsan S.Ag, M.Si.
Dilanjutkan, peristiwa ini menjadi teladan hidup umat manusia dalam
menggugah, menjalani dan kesuksesan sebuah keluarga yang tangguh, dalam kaitan berhadapan dengan persoalan bangsa saat ini, penuh dengan tantangan dan cobaan yang tiada silih berganti, kemiskinan, pengangguran, sulitmya lapangan kerja. Padahal negeri ini subur dan kaya raya.

Tidak meratanya pembangunan, sehingga terjadi kesenjangan di daerah. Rusaknya sebagian mental dan moralitas anak negeri ini yang bermuara pada pergaulan bebas, narkoba, miras, prostitusi, fitnah di media sosial, munculnya penyimpangan dan penyelewengan, munculnya aliran-aliran agama yang berindikasi pada penodaan agama, sehingga terjadinya gesekan dan tindakan yang bisa mengarah kepada anarkis. Muncul terorisme dan kelompok  radikalisme.

“Inilah moment Hari Raya Qurban untuk menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat dan ummat, saat inilah untuk menghidupkan kembali nilai loyalitas didalam berkehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Sebagai kompasnya adalah Al-Qur’an,” paparnya.

Karena itu, segala yag bertentangan dengan Al-Qur’an jangan ditegakkan. Kalau ditegakkan berarti kita menentang Allah. Kalau kita menentang Allah berarti siaplah menerima musibah dan bencana sebagai tamparan Allah, bahkan keberkahan akan dicabut.

Ia menuturkan juga kutipan Al Qur’an yang menceritakan keingkaran umat pada masa Nabi Luth dan Nabi Nuh. Kisah-kisah tersebut menjadi potret kita dalam menjawab persoalan bangsa kita di hari ini. Sebagai jawabannya sudah ada pada diri Nabi Muhamad SAW dalam membangun Kota Mekkah dan Madinah selama 23 tahun.

Mekkah adipurnya disebut Kota Al Mukarrah (yang Mulia), sedangkan Madinah disebut Al Munawaroh
(bersinar/berbudaya dan berilmu) sekaligus Kota suci agama yang multi agama suku dan budaya melahirkan Piagama Madinah.

“Semua itu karena perjuangan atau semangat berkurbannya Rasullullah yang luar biasa, selain sebagai Umaro, Ulama sekaligus juga umat. Demikian juga Nabi Ibrahim As yang kita laksanakan Hari Qurban ini sebagai Bapaknya Para Nabi yang tangguh dalam bernegara, berumah tangga, dan memiliki iman yang kokoh,” jelasnya.

Karena itu, ada beberapa hikmah yang dapat kita jadikan referensi dalam kehidupan, diantaranya, pertama, berkurban menumbuhkan solidaritas dalam lingkup keluarga dan sesama. Kedua, berkurban membangun solidaritas peduli sesama umat menghilangkan sifat bakhil dan kedekut. Ketiga, berkurban membangun solidaritas kecintaan dan kedekatan kepada Allah SWT. Dan, ke empat, berkurban menumbuhkan solidaritas ummat yang kuat, bangsa dan negara selamat.

Sebelum menutup khutbahnya, selanjutnya dikisahkan suatu bangsa dan negara yang jaya dan besar, bahkan bisa menyatukan musuhnya menjadi koalisinya. Yaitu kerajaan Saba’ yang dipimpin Nabillah Sulaiman bersama Ratu Balkis. Kerajaan besar yang bisa jaya dan makmur karena kedermawannya kepada rakyat alias berkurban demi kesejahteraaan. Bahkan saking makmur dan berkuasanya, Nabi Sulaiman meminta izin dengan Allah akan memberikan makan kepada semua mahkluk yang ada di muka bumi.

Nah ini yang sudah jelas, suatu negara yang maju, rakyat tidak protes dan memberontak. Ini wujud keadilan dan kesejahteraan sudah dirasakan semua golongan dan lapisan masyarakat. Negara tidak akan pernah rugi dan bangkrut dalam menghidupi rakyatnya. Karena ada doa yang selalu dipintakan oleh rakyatnya dan ummat sekaligus penjagaan Malaikat dan Ridho Allah.

“Pohon yang rimbun, besar dan kekar menjulang tinggi, karena ditopang oleh akar-akar yang kecil dan besar, Oleh karena itu, mudah-mudahan makna berkurban dapat disinergikan oleh pemimpin kepada rakyat dengan ikhlas,” tuntasnya.(dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.