Abun, Pinoh, Laksmi dilepaskan ke Hutan

IYARI
Orangutan dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) Melawi, Jumat (12/9).

KETAPANGNEWS.COM – International Animal Rescue (IAR) Indonesia bersama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) kembali melakukan pelepasliaran tiga individu orangutan (Pongo pygmaeus).

Dalam Press Release yang diterima Redaksi pelepasanliaran dilakukan di Resort Mentatai, Dusun Juoi, Kecamatan Menukung yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Jumat (15/9). Tiga individu ini terdiri dari satu individu orangutan liar bernama Abun dan dua orangutan hasil rehabilitasi bernama Pinoh dan Laksmi.

Abun adalah orangutan liar berusia lebih dari 25 tahun yang diselamatkan dari perkebunan pohon jabun milik warga di kawasan Dusun Kali Baru, Desa Sungai Awan Kiri, Muara Pawan, Ketapang Agustus lalu. Orangutan jantan dewasa dengan berat sekitar 67 kilogram ini terusir dari habitatnya di kawasan hutan Sungai Putri yang sudah mengalami kerusakan karena aktivitas kebun masyarakat dan perusahan.

Setelah berberapa kali Abun masuk di perkebunan milik warga dan merusak sejumlah tanaman, Abun diselamatkan IAR Indonesia dan BKSDA Kalbar dalam kondisi sehat. Setelah menjalani masa karantina di Pusat Konservasi dan Rehabilitasi Orangutan IAR Indonesia, Abun dilepaskan di habitat barunya di kawasan TNBBBR.

Dua orangutan lainnya yang juga dilepasliarkan bersama Abun bernama Pinoh dan Lasmi. Pinoh adalah orangutan betina berusia 13. Sebelumnya, Pinoh merupakan peliharaan seorang warga di Nanga Pinoh yang kemudian menyerahkan orangutan ini ke BKSDA Kalbar. Pinoh kemudian diserahkan oleh BKSDA Kalbar kepada Yayasan di Sintang dan pada bulan Mei 2011, BKSDA menyerahkan Pinoh kepada IAR Indonesia di Ketapang untuk menjalani proses rehabilitasi.

Laksmi adalah orangutan betina yang didapat dari seseorang di Pontianak yang kabur ketika dia bertemu dengan polisi yang melihatnya membawa kandang berisi orangutan. Polisi ini kemudian membawa Laksmi ke kantor sebelum akhirnya menyerahkannya kepada YIARI Ketapang. Ketika diserahkan kepada IAR Indonesia di Ketapang pada tahun 2011, Laksmi berusia 3 tahun.

Sebelum dilepasliarkan, kedua orangutan ini, Pinoh dan Laksmi menjalani masa rehabilitasi terlebih dulu. Rehabilitasi dilakukan di “sekolah hutan” di mana mereka akan belajar untuk memanjat, mencari makan, membuat sarang, serta mempelajari berbagai kemampuan bertahan hidup lainnya.

Setelah dirasa mereka sudah menguasi kemampuan bertahan hidup, mereka akan dipindahkan ke pulau pre-release untuk diambil data perilakunya. Data perilaku ini penting sebagai penilaian apakah orangutan ini sudah layak untuk dilepasliarkan dan mampu bertahan hidup di alam bebas.

Proses masa rehabilitasi orangutan berjalan selama minimal 5 tahun dimana orangutan harus belajar untuk bertahan hidup di alam, sama seperti pada waktu orangutan ikut induknya sampai umur 7-8 tahun.

Karmele L Sanchez, Program Director YIARI mengatakan, setelah proses rehabilitasi yang memakan waktu sampai 6-7 tahun, bisa dipastikan kondisi orangutan Laksmi dan Pinoh sudah siap untuk dilepasliarkan.

“Perlu banyak tenaga, usaha dan dana yang besar untuk memastikan orangutan bisa siap dilepas. Tidak sampai disini, orangutan yang sudah dilepasliarkan masih dimonitor perkembangannya di hutan selama 2 tahun atau lebih paska pelepasanya,” katanya.(dra)

Leave a Reply

Your email address will not be published.