Ponpes Nurul Iman Gelar Dialog Kebangsaan

Dialog
Para Santri Ponpes Nurul Iman ketika sedang mendengarkan paparan materi Ustadz M Abdul Azis Nor, Minggu (27/8).

KETAPANGNEWS.COM—Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Iman Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan Ketapang menyelenggarakan dialog kebangsaan dari Pesantren Untuk Bangsa bersama Ustadz M Abdul Azis Nor, Minggu (27/8) di ruang pertemuannya.

Dialog yang bertemakan “aplikasi detadikalisasi alam kehidupan bernegara” dihadiri kurang lebih seratu peserta. Diantaranya berasall dari santri dan santriwati Ponpes tersebut.

Pimpinan Ponpes Nurul Iman, Ustadz M Abdul Azis Nor dalam paparan materinya menyebutkan beberapa hal yang perlu dihindari. Diantaranya yang paling digaris bawahi adalah paham radikal.

“Ada beberapa ciri dari gerakan yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua terhadap anak-anaknya. Seperti yang saat ini sedang marak, yakni paham radikal,” sebut M Abdul Azis Nor, Minggu (27/8).

Menurutnya paham tersebut sangat berbahaya. Sebagai contoh, misalnya ada para santri yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera. Dimana mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya, dan etika berbangsa dan bernegara.

Dia mengungkapkan, International State in Irak and Suriah (ISIS), yang baru-baru ini muncul dan marak diberitakan di media massa serta masih banyak kelompok dan gerakan sejenis lainnya yang bermunculan di negeri ini penting untuk diketahui dan diwaspadai oleh masyarakat khusunya santri.

Selain itu, sebagai bentuk tanggungjawab moral untuk memberikan sedikit pencerahan dan peringatan dini kepada masyarakat, khususnya para santri dan generasi muda Muslim, agar dapat membentengi diri dengan pemahaman keagamaan yang benar dan lurus.

Sehingga tidak mudah terprovokasi oleh doktrin-doktrin “meresahkan” dan memecah-belah yang gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal dalam setiap aksi dan gerakannya. Terlebih dalam aksinya menggunakan cara dengan mengatasnamakan dan membawa simbol-simbol keislaman.

“Namun hakikatnya sangat tidak islami, bahkan jauh dari nilai-nilai luhur ajaran Islam itu sendiri yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang bersifat Rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.

Sementara Pasi Intel Kodim 1203, Kapten (Inf).E Andi berpesan, banyaknya elemen yang tergabung dalam Ponpes, diantaranya Ustadz ataupu Kyai, hendaknya dapat memberikan pemahaman kepada santrinya untuk tidak mengikuti paham radikal.

“Didalam pesantren ada elemen pondok, ada Kyai atau ustadz, dimana seharusnya ustadz dapat memberikan pemahaman agar santrinya terbentengi dari radikalisme,” pesan Andi dalam materinya.

Kemudian, ia juga menyampaikan, para santri sebagai seorang muslim yang mendalami Al Quran dan Hadist hendaknya tidak membuat figur atau mengkultuskan manusia. Karena menurutnya Nabi Muhammad SAW sendiri tidak mau dikultuskan.

Terhadap banyaknya perbedaan suku, agama dan ras di Indonesia, dihadapan santi disampaikannya adalah suatu keindahan dan keberagaman bangsa Indonesia.

Kegiatan yang berlansung tertib tersebut juga dihadiri perwakilan Polres Ketapang, yakni Kasat Intel Polres, Iptu Topo dan Kasat Binmas, AKP Sutrisno.(absa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.