Informasi Seperti Apa Yang Harus Disajikan Media Massa

Penulis, Kabag Humas dan Protokol, Setda Ketapang.

Drs Nugroho W Sistanto. M.Si. Kabag Humas dan Protokol
Drs Nugroho W Sistanto. M.Si. Kabag Humas dan Protokol

KETAPANGNEWS.COM-Penulis tergerak menyampaikan hal ini sebagaimana judul diatas karena terkadang menemui sajian informasi di media massa adanya pemberitaan yang kurang pas baik itu berita di media cetak (koran, majalah, bulletin dlsb) maupun media elektronik (radio, televisi) termasuk  media online yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah jurnalisme.

Satu hal yang kadang terlupakan oleh insan-insan media bahwa media massa yang dikelolanya itu mengemban amanah yang sangat mulia yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia yang dikemas dalam satu kalimat yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mudahnya begini, setiap orang pasti punya harapan dan keinginan untuk maju, maju dalam segala hal, maju berarti ada peningkatan kualitas hidup. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup adalah dari hari ke hari ada penambahan pengetahuan, sebab dengan bertambahnya pengetahuan akan mempengaruhi dan mengubah cara hidupnya. Semula yang tidak tahu tentang kesehatan, dia akan berusaha mengubah hidup sehat sesuai dengan pengetahuan  yang diperolehnya, semula tidak tahu tentang politik, maka dia akan meningkatkan partisipasinya dalam politik, semula tidak tahu tentang ekonomi, dia akan mengubah bagaimana hidup tidak hanya konsumtif dan seterusnya dan seterusnya.

Untuk membawa perubahan yang semakin baik tersebut, informasi yang disajikan oleh media massa tidak boleh dilakukan dengan asal asalan, yang penting halaman surat kabarnya bisa terisi penuh, soal kualitas informasinya nomor sekian. Hal-hal semacam ini harus ditinggalkan, kata orang nomor satu di negeri ini (Jokowi), kita perlu ada reformasi mental. Di dunia jurnalistik pun demikian tanpa terkecuali , perlu ada reformasi mental. Tempatkan media massa yang dikelolanya sesuai dengan tujuan mulianya yaitu meningkatkan harkat dan martabat manusia dan mencerdaskan kehidupan bangsa, supaya bangsa ini maju dan memiliki daya saing.

Bagaimana caranya untuk menuju kearah itu?. Terkait dengan pers ini, dimanapun tempatnya dimuka bumi ini ada perangkat aturannya. Di negeri ini ada UU Tentang Pers yaitu UU Nomor 40 Tahun 1999, yang kemudian ditindaklanjuti dengan adanya kode etik jurnalistik yang ditetapkan oleh Dewan Pers. Di UU Tentang Pers jelas disebutkan dalam konsideran menimbang huruf b ada tertulis memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya pada huruf c ada juga disebutkan kemerdekaan pers yang profesional.

Sementara terkait dengan wartawan-nya  diatur pada Pasal 7 yaitu wartawan memiliki dan mentaati kode etik jurnalistik. Kode etik jurnalistik ditetapkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor 6/Peraturan-DP/V/2008, Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 Tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers.

Hal tersebut diatas itulah tugas mulia pers yang harus dipegang teguh semua insan pers, apakah yang berkecimpung di perusahaan pers (penerbit), maupun wartawan yang melakukan hunting berita atau yang mencari bahan-bahan untuk menyajikan berita. Untuk itu, profesionalisme adalah sesuatu mutlak dipenuhi.

Terkait dengan kemerdekaan pers yang profesional yang diamanahkan oleh UU Pers, apa sebenarnya profesiionalisme itu?. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI.1994), Profesionalisme berasal dari kata profesion yang bermakna berhubungan  dengan profesion dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualiti dari seseorang yang profesional (Longman,1987).

Untuk itu dalam Kode Etik Jurnalistik pada Pasal 1 disebutkan Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Selanjutnya pada Pasal 2 disebutkan Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik dan pada Pasal 3 disebutkan Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi,serta menerapkan azas praduga tak bersalah.

Mari coba kita lihat satu persatu hal tersebut diatas, (1) menghasilkan berita yang akurat. Akurat memiliki arti ketepatan, tepat berarti pas dan tidak meleset, menghindari kesalahan atau kekeliruan. Sebuah kalimat apabila ada kata yang hilang atau ada penambahan kata (bisa saja terselip karena tidak sengaja), bisa memberikan makna atau arti yang tidak sebagaimana dimaksudkan, (2) wartawan selalu menguji informasi. Menguji informasi yang dimaksudkan adalah apakah informasi yang akan disampaikan, dimuat dalam pemberitaan tersebut sudah benar. Misalkan akan memberitakan suatu topik yang sedang hangat, si sumber berita mengutip sebuah ketentuan hukum apakah itu UU, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri dll. Media harus check apakah ketentuan hukum yang diambil sebagai rujukan/dasar menyampaikan informasi tersebut sudah pas atau tepat apa belum.

Kesalahan rujukan, kalo hanya salah nomor dari ketentuan/peraturan tersebut tidak begitu menimbulkan persoalan, karena isi dari ketentuan itu memang ada. Tetapi apabila kesalahan atau kekeliruan tersebut dasar yang dijadikan rujukan adalah ketentuan/peraturan yang belum diundangkan (masih draft) tentu ini bisa menjadi informasi yang keblinger (baca; menyesatkan). Kita harus sadar betul bahwa penerima informasi memiliki perbedaan dalam mencerna informasi.

Apabila kelompok menengah keatas dengan berbagai kemapanan yang dimiliki termasuk pendidikan dan knowledge-nya`tidak menjadi masalah, paling-paling mereka membaca berita tersebut hanya senyum-senyum sambil berkata dalam hatinya “ kapan ya yang begini-begini ndak ada lagi?.”.  Tapi lain halnya dengan penerima informasi di level bawahnya, informasi tersebut diterima begitu saja, diserap dalam pikirannya, bergabung dalam mindset-nya dan dianggap itu sebagai sebuah kebenaran, karena tidak memiliki kemampuan untuk menyaring informasi (self censored), hasilnya adalah mudah terprovokasi.

Untuk mengingatkan kita semua, penulis perlu kutip sebagian sambutan Presiden RI JOKO WIDODO pada Peringatan Hari Pers Nasional di Mataram,  Nusa Tenggara Barat (9 Februari 2016)  Bapak/Ibu hadirin yang berbahagia. Kita beruntung hidup di era kemerdekaan pers, era kebebasan pers,  Pers sebagai fungsi kontrol sosial,  dan setiap hari kita dibanjiri informasi, kita disuguhi opini, disuguhi data dan informasi yang beragam. Dan semua bisa melihat sendiri, Betapa mudahnya berita dan informasi. Kadang status di media sosial pun  juga bisa jadi berita. Informasi yang ada di tengah kita memang ada yang pahit, seperti  jamu. ada yang bisa menjadi vitamin yang menyehatkan. Tapi juga Bisa juga hanya sekedar informasi yang terkadang mengganggu kesehatan akal sehat kita.

Pada bagian lain sambutannya disampaikan “Saya juga melihat bahwa karena keinginan kecepatan memberitakan, terutama di online media,  Saya selalu membaca, terutama pas di mobil , pas di pesawat. Kepatuhan kepada  kode etik jurnalisme, kepada etika pemberitaan, sering dan banyak sekali diabaikan, karena inginnya cepat. Sehingga beritanya menjadi tidak akurat, beritanya menjadi  tak berimbang. Beritanya dicampuradukkan antara fakta dan opini. Dan kadang-kadang menghakimi seseorang, ini menurut saya berbahaya sekali”.

Presdien juga menyinggung tentang berita-berita yang sensasional. Demikian disampaikan ”Dan juga Banyak yang terjebak pada berita-berita yang sensasional. Apalagi kalau ditambah komentar pengamat-pengamat, makin ramai. Saya berikan contoh, saya ini hanya membaca, sebetulnya  tadi saya bawa layar. Tapi karena enggak jelas, saya baca saja.  Berita-berita seperti ini menurut saya yang sangat mengganggu masyarakat. Kalau saya, ndak ndak saya tidak pernah terganggu. Bayangkan ada berita indonesia diprediksi akan hancur bayangkan. Dan  ini bukan kali pertama berita seperti itu. Ada berita lagi semua pesimis target pertumbuhan ekonomi tercapai.disitu memang ada  kata-kata pesimisnya. Jadi judulnya saja yang saya baca. Ada lagi judulnya pemerintah gagal, Aksi teror takkan abis, Sampai kiamatpun. Kemudian ini judul-judul saja. kabut asap tak teratasi, Riau terancam merdeka. ada berita yang lebih seram lagi, Indonesia akan bangkrut. Hancur. Rupiah akan tembus 15.000, Jokowi-JK akan ambruk akan ambyar. Saya hanya baca saja loh ya. Kalau judul-judul seperti ini diteruskan dalam era kompetisi seperti ini yang muncul pesimisme. Yang muncul adalah sebuah etos kerja yang tidak terbangun dengan baik. Yang muncul adalah hal-hal  yang tidak produktif. Bukan produktivitas. Padahal itu adalah hanya sebuah asumsi. Tapi akan sangat terpengaruhi. Karena kita tahu. moral, pembentuk karakter, pembentuk mentalitas, pembentuk moralitas, itu ada di media, Ada di pers. Akan banyak ada di situ”. (sumber;http://setkab.go.id/).

Leave a Reply

Your email address will not be published.