Mengikis Pandangan Yang Salah dan Sikap Apatis Masyarakat Terhadap Politik

Pileg adalah ajang memilih legislator dan Pilkada adalah ajang memilih pemimpin pemerintahan. “Bukan ajang memilih pemimpin suku dan pemimpin agama,”

ilustrasi
Ilustrasi

KETAPANGNEW.COM—Sering kita dengar masyarakat mengomel dan menyerukan ketidakpuasan terhadap Pemerintah Daerah, umumnya karena kualitas pembangunan yang tidak baik, kurang berempati pada masyarakat kecil dan hanya sibuk memperkaya diri dan keluarga.

Di lain sisi, masyarakat tidak peduli terhadap politik dengan berbagai alasan. Ini dua hal kontradiktif. Kerena untuk bisa terciptanya pemerintah yang baik, maka harus berawal dari kepedulian masyarakat terhadap politik. Lewat jalur politik itulah para pemimpin memiliki kuasa akan dipilih.

Jadi kalau masyarakat terus apatis terhadap politik, karena menilai politik itu kotor, kejam dan jahat, lalu darimana bisa muncul pemimpin sesuai ekspektasi masyarakat ? Benarkah politik itu kotor, kejam dan jahat ?

Sikap apatis masyarakat sering muncul dalam pembicaraan menyangkut topik Pemilu. Baik itu Pileg (Pemilu Legislatif) maupun Pilkada (Pemilu Kepala Daerah), di Kebaupaten Ketapang misalnya.

Beberapa ungkapan yang sering muncul dalam bahasa khas Ketapang seperti :

  1. Sebagus-bagusnye die te bukan orang kite. Sejahat-jahatnya orang kite, kalo adak kite yang dukung, maok suruh siape gik yang dukung die ?
  2. Udah am bah, urusan politik biarkan sidak jak. Pajoh nyan kenyang-kenyang uang negare. Kite aktip di kegiatan sosial dan rohani jak. Masok surge mah kite nanti nan. Sidak nyan udah kontrak mati am dengan nerake.
  3. Kalok sidak kite bantu dan udah duduk, adak kenal gik im dengan kite. Kepak mah kite kaong-kaong, adak didulikannye ah. Sidak kompak ngembat uang haram. Dari yang merencanakan, yang urus tender, yang kerje sampe yang perikse, same tak ye. Laporan bagus jak am. Padahal ancor kerjenye.
  4. Usah manak dipertanyekan am. Kebanyakan kalo udah jadi, lupak am dengan janji yang die buat pada kite. Bagusnye kite pilih yang kasik duit jak. Mending dapat 100 ribu daripade 5 taon adak dapat ape-ape.
  5. Lain lagi ungkapan yang keluar dari legislator atau mantan legislator : Nyesel aku bantu masyarakat selame 5 taon. Pas pemilu hanya dikasik orang lain 50 ribu, adak ingat kite gik im. Mule sekarang aku adak maok urus gik im sidak. Bak pus am. Aku maok ikut care beli mah. Orang beli 50 aku ikut, beli 100 ayok. Itung-itung maseh gak murah pake beli daripade urus masyarakat selame 5 taon, malah cume dapat sakit ati.

Sebelum diulas lebih jauh, perlu penulis jelaskan maksud dan tujuan artikel ini ditulis. Penulis berharap diantara orang yang membaca tulisan ini, ada yang memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik serta punya talenta menulis, mau ikut menulis dalam topik yang lebih kurang sama. Sehingga kita saling memperkaya pengetahuan dan pada akhirnya nanti menemukan kesimpulan serta kesepakatan bagaimana mengurai benang kusut ini.

Karena dengan membiarkan pandangan yang salah dan sikap apatis masyarakat terhadap politik akan membawa dampak tidak baik terhadap kualitas pemerintah yang ujung-ujungnya juga merugikan masyarakat.

Pandangan yang salah dan sikap apatis masyarakat akan menghambat munculnya pemimpin-pemimpin berkarakter baik di daerah kita. Mari kita ulas satu per satu:

“Sebagus-bagusnye die te bukan orang kite. Sejahat-jahatnya orang kite, kalo adak kite yang dukung, maok suruh siape gik yang dukung die ?”

Celotehan seperti ini serta merta muncul dan bukan berasal dari masyarakat itu sendiri. Kalimat ini telah diindoktrinasi baik secara sporadis maupun dengan pola TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif) oleh oknum caleg maupun cakada tertentu sejak mulai diadakan pemilu di negara kita. Penyesatan dengan isu SARA (Suku, Agama dan Ras) sungguh jahat. Setiap orang yang memakai isu ini adalah manusia jahat dan sangat egois, hanya memikirkan keuntungan buat diri sendiri. Tidak peduli isu ini berpotensi memecah belah bangsa dan negara, menghancurkan dasar negara Pancasila dan menghilangkan Bhinneka Tunggal Ika. Orang seperti ini sama sekali tidak punya sifat negarawan dan tidak pantas dipilih menjadi pemimpin. Sebab kalau dia memiliki kuasa, bisa saja karena sifat ego dan serakahnya, dia mengadu domba masyarakat antar etnis dan antar agama demi keuntungan pribadinya.

Dulu pada awalnya masyarakat masih tidak paham dengan dunia politik. Ditambah dengan taraf pendidikan rendah, maka indoktrinasi jahat melalui tokoh-tokoh masyarakat yang bisa dibeli dan tokoh-tokoh agama yang tidak benar-benar paham dengan agamanya, membuat isu ini dianggap suatu kebenaran dan mudah tertanam dalam hati sebagian masyarakat kita.

Baru belakangan ini dengan semakin terdidik masyarakat disertai pencerahan yang benar melalui mass media, televisi, internet dan medsos (media sosial), sedikit demi sedikit masyarakat mulai sadar bahwa mereka cuma diperalat dengan kedok dan isu SARA.

Menjadi tugas semua orang yang menyebut dirinya politisi serta tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki integritas untuk mengedukasi masyarakat dalam berbagai kesempatan, bahwa Pileg dan Pilkada tidak ada kaitannya dengan SARA. Pileg adalah ajang memilih legislator dan Pilkada adalah ajang memilih pemimpin pemerintahan. “Bukan ajang memilih pemimpin suku dan pemimpin agama,”.

Isu SARA ini tidak boleh kita biarkan dengan menganggap akan pudar sendiri dengan semakin cerdasnya masyarakat, terlalu lambat. Kita perlu membantu Presiden Jokowi melakukan revolusi mental masyarakat, yang salah harus segera diluruskan. Supaya bisa muncul dan terpilih pemimpin-pemimpin yang baik.(Bersambung)

Oleh : Leo Gabriel (Bagian Pertama)

Leave a Reply

Your email address will not be published.